Anak yang gemuk memang terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Namun, gemuk ternyata
tidak berarti sehat, melainkan juga sebagai indikasi bahwa ada
penyakit yang harus diwaspadai sejak dini.
Saat ini permasalahan kegemukan pada anak, tidak hanya menjadi masalah di negara maju, di
negara berkembang seperti halnya Indonesia, baik di kota bahkan di desa, semakin
banyak anak yang menderita kegemukan. Bahkan bukan hanya yang berasal dari keluarga
dengan ekonomi kecukupan saja.
Pola makan tidak terkontrol dan harga buah-buahan serta
sayuran lebih tinggi dibanding harga gorengan, gula, dan camilan lain, hal inilah yang
menjadikan tubuh kelebihan kalori. Anak dan bayi di pedesaan, yang bukan dari keluarga kecukupan pun,
sudah tercemar oleh pilihan menu (jajanan) yang sekaliber junk food, kalau
jenis jajanan pizza, burger, atau hot dog sudah masuk desa, selain penganan
yang serba manis, dan berlemak tinggi. Selain itu, rata-rata bayi di desa juga
sudah lebih dini dan belum waktunya diperkenalkan jenis makanan padat, sehingga
badannya rata-rata melebihi ukuran seusianya, mungkin lantaran ketidaktahuan.
Memberi nasi, pisang, bubur, sebelum bayi berumur 5 bulan, salah satu penyebab
kenapa banyak bayi di pedesaan menjadi gemuk.
Kini, Amerika Serikat tengah bergulat menghadapi anak sekolah yang
lebih separo populasinya tergolong gemuk. Sebagian besar membutuhkan konsultasi
dokter. Berbagai upaya dilakukan, namun belum seluruhnya teratasi. Kita bisa
memaklumi kalau anak Amerika cenderung kelebihan berat badan, mungkin sudah
sejak usia bayi mula. Namun, kalau banyak
pula anak-anak kita yang gemuk, tentu ada yang keliru dalam pola dan
kebiasaan makan mereka. Junk food adalah salah satu penyebabnya.
Anak-anak di negara maju, pilihan menunya yang cenderung membuat
mereka jadi kelebihan berat badan. Kita memahami, menu junk food kaya lemak,
boros gula, dan garam, serta sangat tinggi kalori. Lidah anak zaman sekarang
sudah terkondisikan dengan cita rasa gurih, manis, asin, dan serba berbumbu.
Itu pula yang menggiring mereka tidak lagi begitu menyukai menu meja makan ibu.
Demikian pula agaknya anak-anak kita di perkotaan. Mereka sudah
terkondisikan pula oleh menu harian yang serba junk food di luar rumah, dan
kehilangan selera makannya di meja makan ibu. Semakin dimanjakan anak oleh menu
di luar rumah yang cenderung melebihi porsi kebutuhan tubuh, semakin besar
potensi untuk menjadi gemuk, dan terus bertambah gemuk.
Kegemukan sejak bayi tidak boleh terjadi, oleh karena pola dan ukuran
sel-sel lemak tubuhnya sudah telanjur terbentuk salah. Selain jumlah sel-sel
lemaknya terbentuk lebih banyak dari anak normal, ukurannya pun lebih besar.
Itu maka, sebaiknya anak tidak gemuk sejak usia bayi. Gemuk yang sudah telanjur
terbentuk, sukar mengempiskannya lagi, kecuali menerimanya saja sebagai bakat
yang dibawanya sampai usia dewasa. Diet tanpa pengawasan dokter tidak
dianjurkan bagi anak yang gemuk. Dalam masa pertumbuhan, tubuh anak tidak boleh
sampai kekurangan zat gizi. Jika diet menguruskan badan tidak tepat, yang
berkurang dalam menu bukan cuma kalorinya, melainkan juga semua zat gizi yang
dibutuhkan tubuh anak untuk pertumbuhan. Bukan cuma lemak dan kalori yang berkurang
dengan diet langsing bukan dari dokter, melainkan semua zat yang terkandung dalam
menu harian akan ikut susut juga. Dan ini tidak boleh terjadi. Obat antilemak
seperti yang dikonsumsi orang dewasa yang lemak darahnya tinggi, tidak dianjurkan
diberikan kepada anak. Diharapkan, dengan mengurangi porsi menu berlemak berkolesterol,
ditambah rutin latihan jasmani, lemak darahnya bisa turun menjadi normal. Yang
dapat dilakukan mungkin dengan cara akupunktur yang bisa menekan nafsu makan, sambil
tetap mengatur kecukupan gizi agar pertumbuhan anak tetap tercukupi. Perilaku makan
merupakan kesulitan terberat dalam upaya penurunan berat badan. "Lapar
mata" adalah salah satu tantangannya.
Anak yang lapar mata terdorong untuk makan (apa saja) kendati tidak
sedang lapar.Mestinya, tubuh dilatih hanya makan kalau sedang merasa lapar
saja. Makan kapan saja melihat atau ditawarkan makanan (echo), akan
mengondisikan tubuh senantiasa terdorong ingin makan kendati tidak merasa
lapar. Bayi dan anak menjadi gemuk jika porsi yang dimakan melebihi kebutuhan
tubuh. Kelebihan kalori disimpan menjadi lemak, dan gajih di bawah kulit.
Sel-sel lemak tubuhnya menjadi besar-besar, selain jumlahnya lebih banyak dari
anak normal.
Susu sapi harus dituding sebagai salah satu penyebab lainnnya. Kita
tahu lemak dalam susu sapi lebih tinggi dari lemak ASI. Lemak susu sapi
disiapkan untuk membangun tubuh anak sapi, bukan tubuh anak manusia. Maka masih
tetap bijak jika ibu tetap hanya memilih ASI untuk bayi, daripada membiarkan
menjadi gembrot oleh susu sapi nantinya. Jika bayi diberikan makanan sesuai
dengan umur dan tahapan perkembangan usianya, kecil kemungkinan anak bakal
gemuk. Kita tahu, ada tahapan pemberian makanan bayi yang tidak boleh
dilanggar.
Selain agar tubuh anak tidak dirugikan oleh menu yang tidak tepat,
kemungkinan anak menjadi kelebihan berat badan pun tidak perlu sampai terjadi.
Buat anak di atas setahun, tentu pilihan susunya hanya susu sapi. Jika anak sudah
gemuk, pilihlah susu nonfat, yang sudah dibuang lemak susunya. Anak hanya
membutuhkan kandungan protein susunya. Biasakan anak banyak gerak. Latihan
jasmani bukan sekadar permainan, melainkan harus dimanfaatkan juga untuk
membantu membangun tulang dan otot, selain membakar kelebihan kalori yang
diperoleh dari makanan yang mungkin berlebih. Semakin kurang bergerak, berolahraga,
dan latihan jasmani, semakin besar kemungkinan menjadi gemuk, dan badan anak
pun tidak bugar. Kurikulum olahraga di sekolah kita sangat kurang memadai.
Semboyan hidup anak sekolah di negara maju, tiada hari tanpa olahraga.
Selera makan anak yang sudah telanjur gemuk umumnya jadi meningkat
luar biasa. Itu maka, anak yang sudah telanjur gemuk dengan mudah bertambah
berat badannya kalau dorongan untuk terus makannya tidak ditahan, atau
terkendali. Bayi normal akan bertambah berat 2 kali lipat pada usia 5 bulan,
dan menjadi 3 kali lipat ketika berumur setahun. Selanjutnya berat badan ideal
anak sampai usia 11 tahun bisa dihitung dengan rumus 8 + (2 X umur) kg. Anak
yang berumur 5 tahun, idealnya memiliki berat badan 8 + (2 X 5) kg atau 18 kg.
Lebih dari itu waspada.
Namun, lebih tepat untuk usia di atas setahun dipakai formula IndeksMasa Tubuh (Body Mass Index), yang dihitung dengan cara membagi angka berat
badan dengan tinggi badan (dalam meter). Nilai 23 - 25 tergolong ideal, dan
lebih dari 25 berarti sudah kelebihan berat. Anak yang gemuk bukan cuma sebab
kesalahan memberi makan berlebihan, melainkan bisa juga sebagai sebuah kasus
penyakit. Ada beberapa jenis penyakit (kelainan hormon dan gen) yang membuat
tubuh anak gemuk abnormal, dan gemuknya kelihatan tidak sehat.
Dalam hal gemuk penyakit, tidak mudah mengoreksinya, karena memang ada
yang salah dalam sistem hormonal atau gennya. Gemuk yang tak terkendali dengan
diet, dan upaya membuang kalori ini, tergolong gemuk yang harus diterima apa
adanya, dengan segenap risiko yang dibawanya. Ini masalah baru yang dihadapi
Amerika sekarang. Baru-baru ini, sekolah di AS membuat 'kartu rapor berat
badan'. Anak yang dinyatakan kelebihan berat badan memerlukan konsultasi dokter
untuk diet khusus, dan latihan jasmani ekstra agar berat badan ideal bisa
tercapai.
Di sekolah-sekolah Singapura, misalnya, anak yang kelebihan beratbadan diberi porsi olahraga yang lebih banyak dibanding anak yang tidak gemuk,
agar berat badannya menyusut menjadi tidak gemuk lagi. Kegemukan diantisipasi
medis bisa membawa banyak penyakit, sehingga sumber daya manusia menjadi kurang
berkualitas. Dengan kartu rapor berat badan, anak dipantau terus oleh sekolah
sampai batas tidak gemuknya tercapai. Setelah itu, berat badan yang tercapai
ideal dipertahankan dengan cara makan tidak rakus, dan pilihan menunya tepat,
sambil tetap berolahraga sehingga gemuknya tidak kambuh.
Anak gemuk apakah berarti profil lemak dalam darahnya juga tinggi? Ya,
hal itulah yang paling kita takuti. Kebanyakan remaja Amerika yang pola makan
dan pilihan menunya serba junk food itu, rata-rata sudah kelebihan kadar lemak
dalam darahnya. Walau tidak selalu harus lemak dalam darahnya tinggi, namun
kebanyakan remaja di negara maju, kolesterol dan trigliseride-nya sudah di atas
normal. Itu berarti, risiko muncul malapetaka akibat tingginya profil lemak
tubuhnya, sudah dimulai sejak usia pubertas mula. Dan itu yang menerangkan,
mengapa dewasa ini banyak serangan jantung atau stroke muncul pada usia yang
lebih dini. Semakin banyak stroke dan serangan jantung koroner prematur (kurang
dari usia 40 tahun) muncul sekarang ini.
Lemak dalam darah yang belebih kini diyakini juga menceteuskan
bangkitnya kanker di organ tubuh mana saja. Kanker rahim, ginjal dan payudara
khususnya. Risiko perlemakan hati, kencing manis, juga disebabkan semakin
tingginya lemak dalam darah.





0 comments:
Posting Komentar